Hutan Mangrove di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk

Tidak hanya gedung-gedung tinggi, Jakarta juga mempunyai Taman Mangrove atau Hutan Bakau di Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk. Tempat cantik ini terletak di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Lokasinya dekat dengan Yayasan Buddha Tzu Chi, dan jam operasionalnya setiap hari (Senin-Minggu) dari pukul 8 pagi sampai 7 malam (19:00).

Hutan Mangrove
Hutan Mangrove

Berapa biayanya?

Untuk tiket masuknya, pengunjung dewasa akan dikenakan biaya seharga 25.000 (dua puluh lima ribu) rupiah dan anak di atas lima tahun seharga 10.000 (sepuluh ribu) rupiah. Apabila membawa motor maka akan dikenakan biaya tambahan 5.000 (lima ribu) rupiah untuk parkir, sedangkan mobil 10.000 (sepuluh ribu) rupiah.

Hutan Mangrove
Hutan Mangrove

Di loket pembelian tiketnya ada larangan tentang kamera SLR/DSLR, jika memang ingin memotret denga kamera SLR/DSLR diharuskan membayar 1.000.000 (satu juta) rupiah. Mungkin karena dari pengelola TWA sendiri menyediakan jasa foto pre wedding, buat kita yang hanya memotret menggunakan kamera ponsel tidak masalah.

Hutan Mangrove
Hutan Mangrove

Di sini, kita bebas mengelilingi area yang ada. Disarankan memakai sendal yang nyaman sebagai alas kaki, karena beberapa tempat jalannya terbuat dari jembatan kayu sehingga tidak aman bagi yang menggunakan sepatu hak tinggi (high heels). Kami ke sini sekitar pukul 4 sore, jadi kira-kira pas udaranya tidak terlalu panas dan berasa lumayan sejuk.

Jalan dari kayu
Jalan dari kayu

Awal tujuan kami mengikuti petunjuk ke arah pantai, sepanjang jalan yang terbuat dari kayu terdapat kursi (yang juga terbuat dari kayu) untuk duduk beristirahat jika lelah dan ada pula saklar untuk menyalakan lampu jika hari sudah mulai gelap. Jalanan yang terbuat dari kayu jelas tidak rata, sehingga lebih cepat membuat kaki terasa lelah dan pegal.

Kursi kayu
Kursi kayu

Setelah beberapa menit berjalan sambil foto-foto, akhirnya kami sampai di ujung jalan. Di sini terdapat pondok besar untuk beristirahat, dan kita juga bisa langsung menikmati angin laut. Aroma air asin terasa dengan jelas, sayangnya tidak ada pasir sehingga beberapa pengunjung kecewa karena tidak seperti “pantai” yang mereka harapkan.

"Pantai"
“Pantai”

Sehabis berfoto-foto dan menikmati panorama yang ada, kami kembali lagi. Melihat papan petunjuk ternyata masih ada beberapa area yang belum kami kunjungi, seperti Menara Pengawas dan Jembatan Besar. Menara Pengawas ini hanya dibuka sampai pukul 6 sore (18:00), jadi kami memutuskan untuk menuju ke sana terlebih dahulu.

Menara Pengawas
Menara Pengawas

Menara Pengawas tujuannya untuk mengawasi burung-burung yang hidup di sekitar hutan bakau, tapi dari sini juga kita bisa melihat pemandangan yang indah antara hijaunya hutan bakau berdampingan dengan gedung-gedung tinggi. Apalagi kami ke sini sekitar jam 5-530, pas waktunya matahari terbenam jadi semakin manis suasananya.

Pemandangan dari Menara Pengawas
Pemandangan dari Menara Pengawas
Yayasan Buddha Tzu Chi dari Menara Pengawas
Yayasan Buddha Tzu Chi dari Menara Pengawas

Karena memang dekat dengan habitat burung, Menara Pengawas ini sedikit terlihat jorok dengan banyaknya kotoran burung. Sepanjang perjalanan tadi juga ketika sedang menuju area pantai, di sisi kiri-kanan jalan terlihat banyak sampah. Mungkin memang sebagian sampah karena terbawa arus laut, tapi menurut kami kesannya seolah tidak terawat.

Hutan Mangrove
Hutan Mangrove

Lanjut kami mengelilingi area TWA ini dengan melewati Jembatan Besar, jembatan ini juga bisa dipakai untuk jalur sepeda. Walaupun sama-sama terbuat dari kayu tapi Jembatan Besar ini tidak terlalu bergelombang dibanding jalan sebelumnya, melewati Jembatan Besar ini ternyata bisa tembus juga langsung ke pintu masuk TWA.

Jembatan Besar
Jembatan Besar

Dari Jembatan Besar ini juga terlihat ada boat, perahu dayung, dan kano. Biayanya 350.000 (tiga ratus lima puluh ribu) rupiah untuk boat 8 (delapan) orang, 250.000 (dua ratus lima puluh ribu) rupiah untuk boat 6 (enam) orang, 100.000 (seratus ribu) rupiah untuk perahu dayung dan kano. Dapat dilihat juga ada cottage untuk menginap, harganya berkisar antara 1.300.000 (satu juta tiga ratus ribu) rupiah sampai 6.000.000 (enam juta) rupiah per malam.

Speed boat and cottage
Speed boat and cottage
Perahu dayung
Perahu dayung
Cottage
Cottage

Demikian perantauan kami kali ini ke Hutan Mangrove, dan overall kami merasa cukup puas melepaskan penat di tempat ini. Rasanya menyegarkan melihat masih banyak yang hijau-hijau, setelah sehari-harinya menatap bangunan-bangunan yang menjulan tinggi. Sudah sore menjelang malam, kami pulang untuk makan malam dan beristirahat. Tapi sebelumnya, mari kita mampir ke Yayasan Buddha Tzu Chi dulu sebentar untuk berfoto-foto ria!

Halaman Yayasan Buddha Tzu Chi
Halaman Yayasan Buddha Tzu Chi
Gerbang Yayasan Buddha Tzu Chi
Gerbang Yayasan Buddha Tzu Chi
Advertisements

Feel free to comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s