Christmas 2014 Holiday Trip to Jogja – Part 3

DAY 4 – SAT, 27 DEC 2014

            Bangun pagi seperti biasa kira-kira pukul 8an lebih, mandi/sarapan, dan kemudian kami mencari taxi menuju ke Taman Sari. Setelah mencari taxi yang menggunakan argo tapi tidak ketemu (kata petugas hotel: “taxi sini memang kebanyakan nawar aja biar lebih seru”), akhirnya kami pasrah coba ‘nawar’ taxi 40.000 (empat puluh ribu) rupiah untuk perjalanan dari hotel menuju ke Taman Sari.

                Perjalanan cukup macet, memakan waktu kurang lebih 30 menit padahal kalau dilihat jaraknya hanya sekitar 2 kilometer. Pukul 9.30an lebih kami sampai di Taman Sari, tiket masuk sebesar 5.000 (lima ribu) rupiah per orang, dan ketika mau masuk ada beberapa bapak-bapak yang ternyata adalah Tour Guide. Saat menanyakan berapa yang harus dibayar jika menggunakan Tour Guide, mereka menjawab serelanya saja.

                Setelah berdiskusi singkat, akhirnya kami mau juga menggunakan Tour Guide. Lumayan juga sebenarnya menggunakan Tour Guide, jadi kita bisa mengetahui sejarah, tidak hanya sekedar melihat dan berfoto-foto. Kita jadi tahu kalau taman ini adalah vila untuk sultan bersenang-senang, di taman ini biasanya para selir akan menari, ada pohon yang buahnya wangi dan biasa dioles ke tubuh untuk mencegah bau badan, dan pintu-pintu yang dibuat pendek sehingga ketika masuk harus membungkuk ini melambangkan kita harus senantiasa rendah hati.

                Dijelaskan juga mengenai ruangan-ruangan yang ada, kamar ganti pria dan wanita, pos jaga, dan komplek Taman Sari yang luas tetapi sekarang sebagian areanya diberikan sultan kepada warga untuk ditinggali. Kata Tour Guide di tempat ini juga sekarang dijadikan lokasi pemotretan pre-wedding, tetapi biasanya harus buat janji dulu dan bukan di musim libur supaya tidak terlalu ramai.

IMG_20141227_101413 IMG_20141227_100459

Setelah berfoto-foto, kami melanjutkan ke bagian belakang Taman Sari yang sekarang sudah menjadi pemukiman warga. Di sini banyak toko-toko yang menjual kaos dan batik hasil warga sekitar, bahan dan desainnya lumayan bagus. Kami mampir ke toko yang menjual baju dari bahan serat bambu, “Voice of Jogja”.

                Di sini kami mengobrol dengan penjaga tokonya yang ramah, awalnya kami ditanya apakah bisa Bahasa Indonesia atau tidak. Setelah memastikan bahwa kami adalah turis lokal, kami langsung dijelaskan menggunakan Bahasa Indonesia. Usaha mereka dipimpin oleh Hery Hermawan, mulai beroperasi sejak 12 Desember 2012, keunggulan kaos dari bahan serat bambu yaitu tidak mudah melar, lembut, anti bakteri, kuat, dan tidak kaku.

Di Voice of Jogja Agnes membeli Face Water Woman ukuran M dan kaos bergambar wajah Lenon ukuran L untuk kokonya, masing-masing seharga 180.000 (seratus delapan puluh ribu) rupiah. Dekat situ ada lagi toko batik “nDalem Mbah Bei”, dan karena baru buka ada diskon sebesar 20%. Agnes membeli lagi baju anak seharga 57.500 (lima puluh tujuh ribu lima ratus) rupiah dan setelah diskon menjadi 46.000 (empat puluh enam ribu) rupiah.

Taman Kampoeng Cyber
Taman Kampoeng Cyber
Voice of Jogja
Voice of Jogja

Kami melanjutkan perjalanan melewati toko batik dan Kampoeng Cyber. Cuaca mulai gerimis jadi kami mempercepat langkah. Sampailah kami di Masjid Bawah Tanah. Katanya dulu ketika penjajah datang, Sultan bersembunyi di sini. Meskipun sekarang sudah terlihat rumah-rumah warga, tetapi dahulunya semua area ini ditutupi air sehingga para penjajah tidak menyangka ada ruangan di bawah kolam air yang luas tersebut.

                Masjid ini didesain sedimikian rupa sehingga suara imam yang memimpin ibadah bisa terdengar ke seluruh ruangan tanpa alat bantu pengeras suara. Di sini juga terlihat ada pasangan yang sedang melakukan pemotretan pre-wedding. Setelah dari sini tur singkat kami di Taman Sari sudah selesai, saya memberikan tips 20.000 (dua puluh ribu) rupiah. Menurut Andrew mungkin seharusnya 50.000-100.000 (lima puluh-seratus ribu) rupiah karena Tour Guide-nya menjelaskan dengan cukup detil.

IMG_20141227_111219 IMG_20141227_110319

Karena cuaca masih gerimis, kami melanjutkan perjalanan ke Keraton dengan naik becak. Kami mencoba menawar harga 30.000 (tiga puluh ribu) rupiah untuk 1 becak bertiga, tetapi becak-becak yang di dekat Taman Sari maunya 2 becak dengan harga masing-masing 20.000 (dua puluh ribu) rupiah. Karena terasa kemahalan, kami berencana untuk jalan kaki saja.

                Setelah berjalan kaki sekitar 5 menit, di pertigaan jalan kami melihat ada pangkalan becak yang lagi beristirahat di bawah pohon. Ternyata tukang becak di sini mau ke Keraton dengan harga 20.000 (dua puluh ribu) untuk 1 becak bertiga. Sepertinya kami lumayan berat, karena sepanjang perjalanan bisa terdengar jelas nafas tukang becaknya ngos-ngosan.

Tiket masuk Keraton dikenakan biaya sebesar 5.000 (lima ribu) rupiah dan untuk izin memotret 1.000 (seribu) rupiah meskipun hanya menggunakan kamera handphone. Di sini kami tidak ditawarkan Tour Guide, tetapi kami melihat ada beberapa kelompok memiliki Tour Guide. Kelihatan memang Keraton lebih ramai, jadi mungkin Tour Guide yang ada sudah memiliki kelompok yang akan didampinginya.

Sambil berkeliling dan foto-foto, terpaksa kami menguping pembicaraan Tour Guide yang ada. Hanya sedikit informasi yang dapat didengar, seperti Sultan ke-9 (kalau tidak salah) suka memasak, ada juga Sultan yang menimbal ilmu di Negeri Kincir Angin, kebetulan juga kelompok yang didampingi Tour Guide tersebut berasal dari Belanda.

IMG_20141227_114815 IMG_20141227_120609 IMG_20141227_121838 IMG_20141227_122131 IMG_20141227_122331Untuk perjalanan pulang kembali ke hotel kami berencana jalan kaki, sekalian mencari makan siang di sekitar Keraton. Ternyata ada jalan yang berjejer tempat makan gudeg, kami memilih makan siang di “Gudeg Yu Djum”. Andrew memesan Nasi Gudeg Paha Atas seharga 30.000 (tiga puluh ribu) rupiah, Hendro dan Agnes memesan Nasi Gudeg Dada seharga 35.000 (tiga puluh lima ribu) rupiah, dan masing-masing minum Es The Manis seharga 4.000 (empat ribu) rupiah per gelas.

Nasi Gudeg Dada
Nasi Gudeg Dada

Seusai makan siang gudeg, kami berjalan kaki ke hotel melewat Jalan Malioboro. Karena Mirota Batik sudah buka, maka kami pun menyempatkan diri masuk sebentar sekaligus mencari oleh-oleh. Tempatnya sesak, penuh dan ramai dengan pengunjung. Terlihat ada beberapa papan untuk mengingatkan pengunjung agar berhati-hati dengan pencopet dengan bahasa yang lucu, misalnya “enak ya jadi copet, bisa ngambil barang orang lain”.

                Di Mirota Batik tokonya terdapat 3 lantai, lantai pertama menjual berbagai macam batik, ada juga seniman yang sedang melakukan proses melukis batik, sungguh membutuhkan ketekunan dan tingkat keuletan yang tinggi. Di lantai 2 menjual berbagai macam pernak-pernik yang lebih kecil, seperti gelas, tas, kerajinan tangan, ikat pinggang, semuanya dengan motif batik.

Di lantai 2 ini kami membeli Gelas/Mug seharga 12.000 (dua belas ribu) rupiah, Ikat Pinggang seharga 63.000 (enam puluh tiga ribu) rupiah, Rok Anak seharga 97.500 (Sembilan puluh tujuh ribu lima ratus) rupiah, Tas seharga 32.500 (tiga puluh dua ribu lima ratus) rupiah, dan Boneka seharga 15.000 (lima belas ribu) rupiah. Di lantai 3 katanya kantor, jadi kami tidak diperbolehkan naik. Setelah membayar, kami langsung kembali ke hotel untuk mandi dan bersiap menuju Gereja.

IMG_20141227_175731 IMG_20141227_175710

Seusai menghadiri perayaan Misa Kudus, kami berencana menghabiskan malam terakhir di Jogja dengan makan malam di “House of Raminten”. Kami berjalan kaki saja, karena tempatnya berdekatan dengan Gereja. Selagi jalan kami mulai merasakan hujan yang turun rintik-rintik, akhirnya kami sampai di House of Raminten dan harus antri sekitar 1 jam.

                Selagi antri, karena bosan, saya berjalan saja masuk ke dalam sekalian buang air kecil. Tempatnya remang-remang, tercium bau dupa, di salah satu sudut ruangan ada Patung Hati Kudus Yesus, dan setelah diperhatikan ternyata pramusaji di sini juga mengenakan Rosario. Entah memang Raminten ini seorang Katolik atau hanya sekedar aksesoris, tapi pemandangan yang belum pernah saya temukan di Ibukota Indonesia.

                Di dekat toilet ada kandang kuda, beserta kudanya. Agak kaget juga saya, memang di tempat antrian House of Raminten ada kereta kuda, tetapi saya tidak menyangka ada kudanya. Toiletnya bersih, tetapi karena bersebelahan dengan kandang kuda sehingga agak bau. Di dalam kawasan restoran ada toko kecil yang menjual baju, dompet handphone, dan aksesoris lainnya yang berlogo Raminten.

                Akhirnya giliran kami, dan setelah melihat menu kami memesan: Nasi Kucing TanTe (Tanpa Telor) seharga 1.000 (seribu) rupiah, Nasi Kucing PakTe (Pake Telor) seharga 2.000 (dua ribu) rupiah, sudah termasuk nasi, sambal, dan ikan teri. Beberapa kali terdengar suara kuda yang meringkik sehingga membuat kaget dan tidak nyaman.

                Di sini pelayannya ramah dan suka bercanda, mungkin karena Raminten sendiri adalah seorang pelawak. Menu lainnya yang kami pesan juga adalah Ayam Koteka, ayam yang dimasak dalam bambu, sehingga wangi rempahnya benar-benar meresap. Untuk minum kami memesan Cendol Jumbo, isinya cukup untuk minum 2-3 orang.

Cendol Jumbo
Cendol Jumbo

Selagi kami makan sudah terdengar hujan yang mengguyur dengan derasnya, kami pikir hujan sederas ini tidak akan bertahan lama. Ternyata kami salah, setelah kami makan dan ngobrol-ngobrol pun, hujan masih terus mengguyur deras. Akhirnya kami putuskan untuk mencari taxi. Antrian di luar makin panjang dan ramai, antrian untuk makan dan antrian yang mencari taxi juga.

                Setelah 10-15 menit tidak mendapat taxi, kami mencoba bertanya kepada petugas di House of Raminten apakah ada taxi yang bisa dipesan. Dari beberapa pilihan yang ditawarkan, tidak ada satupun yang bisa. Akhirnya kami menelpon pihak Abadi Hotel dan bertanya apakah bisa dijemput di House of Raminten Kotabaru dengan menggunakan mobil hotel, kena charge sewa mobil 1 jam pun menurut saya tidak apa yang penting bisa pulang. Tetapi karena waktu itu sudah malam kira-kira pukul 9-10, semua supir sudah pulang.

                Ketika sedang menelpon hotel, percakapan kami terputus karena pulsa saya habis. Selagi meminjam handphone Agnes atau Andrew, pihak hotel menelpon saya. Ternyata mereka telah memesankan taxi, saya diberitahu nomor dan warna taxi. Taxinya pun menggunakan argo, sungguh pelayanan yang memuaskan dari pihak hotel.

                Akhirnya taxi kami sampai, dan sebelum kami pulang ke hotel, Andrew mendapatkan saran dari temannya untuk mencoba martabak terenak se-Jogja. Diming-imingi kalimat “terenak se-Jogja”, kami pun menuju ke tempat martabak tersebut mumpung dekat di daerah Kotabaru juga. Tenda martabaknya di pinggir jalan, tetapi memang terlihat ramai dan menjual kue lain juga selain martabak.

                Karena hujan masih deras, hanya saya yang turun dari taxi dan berlari-lari menuju ke tenda martabak. Saya memesan martabak istimewa menggunakan mentega wijsman seharga 100.000 (seratus ribu) rupiah, dan langsung pulang ke hotel. Saya membayar taxinya dan memberikan sedikit tips, sebagai ucapan terima kasih telah menyelamatkan kami dari guyuran hujan deras.

                Sesampai di hotel kami mencoba martabak itu dan memang enak, tetapi agak berlebihan menurut saya jika dibilang terenak se-Jogja. Mungkin juga karena saya memang bukan penggila martabak, entahlah. Sehabis makan martabak kami melanjutkan packing untuk keberangkatan besok dan kemudian bersiap-siap beristirahat.

DAY 5 – SUN, 28 DEC 2014

                Seperti biasa kami bangun pukul 7, mandi, sarapan, dan kemudian check-out sekitar pukul 9. Uang deposit saya dikembalikan, dan kami siap pergi meninggalkan Abadi Hotel. Akhirnya pukul 9.30 kami sudah di dalam kereta api dan berangkat menuju Jakarta. Film yang diputar di dalam kereta api masih sama, dan kali ini kami tidak memesan makanan di kereta tetapi hanya tidur.

IMG_20141228_170612 IMG_20141228_092527 IMG_20141228_093111

Sampai di Jakarta sekitar pukul 5 sore, dan kami pun berpisah dengan Andrew karena dia sudah ada acara bersama keluarganya. Meskipun saya hanya sebentar berlibur di Jogja, saya harus mengakui kalimat ini benar adanya: “Bagi setiap orang yang pernah ke Jogja pasti setuju, setiap sudut kota Jogja itu romantis.” ❤

Advertisements

One thought on “Christmas 2014 Holiday Trip to Jogja – Part 3

Feel free to comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s