Christmas 2014 Holiday Trip to Jogja – Part 2

DAY 2 – THU, 25 DEC 2014

            Kami bangun dan mandi sekitar pukul 7 pagi, kemudian melanjutkan sarapan di hotel. Setelah sarapan, kami berangkat menuju ke Gereja untuk mengikuti perayaan Misa Natal. Kali ini kami mencoba untuk naik becak, tapi karena mahal (60.000 – enam puluh ribu – rupiah untuk 2 becak) maka kami memutuskan untuk berjalan kaki. Baru jalan sebentar kami melihat ada taxi dan sepakat untuk membayar 30.000 (tiga puluh ribu) rupiah.

Morning
Morning

***

Seusai Misa Natal, kami pulang menuju ke hotel dengan berjalan kaki. Di terminal bis dekat hotel, ada Warung Lesehan “Sambal Uleg”. Kami makan di situ, memesan Gudeg Telor seharga 15.000 (lima belas ribu) rupiah dan Es Teh seharga 4.000 (empat ribu) rupiah, jadi totalnya 57.000 (lima puluh tujuh ribu) rupiah tetapi ditulis di notanya 60.000 (enam puluh ribu) rupiah. Akhirnya penjual pun meralat setelah menghitung kembali menggunakan kalkulator. Memang sudah sering diingatkan kalau makan lesehan di daerah Malioboro harus hati-hati.

Mass schedule
Mass schedule

Selesai makan kami kembali ke hotel dan mandi karena sudah bercucuran keringat. Setelah kami semua mandi, kami berdiskusi tentang rencana hari itu. Sebelumnya kami berencana ke Pantai Parangtritis, tetapi karena kata supir taxi jalannya macet dan pantainya sudah agak kotor maka kami memutuskan untuk batal ke pantai.

Diputuskanlah hari itu untuk jalan-jalan di dalam kota saja, mungkin kuliner dan belanja. Hari itu begitu terik, sehingga kami memutuskan untuk mencoba Artemy Italian Gelato hasil rekomendasi teman Agnes. Tetapi sebelum itu, Andrew mengajak kami mencoba sate kuda yang berada dekat Hotel Santika. Kami mencari taxi, mencoba menawar 30.000 (tiga puluh ribu) rupiah dan pak supirnya pun mau.

Sempat kebingungan mencari tempat makan sate kuda tersebut, karena ternyata posisinya sedikit bergeser. Setelah melihat papan nama “SATE KUDA GONDOLAYU” akhirnya kami pun berhenti dan turun dari taxi. Ternyata tempat makannya terlihat memprihatinkan, sudah berubah dibanding setahun lalu kata Andrew.

Dari jembatan hanya terlihat papan namanya, sedangkan tempat makannya sendiri kita harus turun tangga ke agak bawah jembatan. Tempat makannya kecil, hanya kira-kira 2 meja yang masing-masing meja paling menampung sekitar 4-6 orang. Seporsi sate kuda dihargai 30.000 (tiga puluh ribu) rupiah untuk 8 tusuk, katanya dulu 10 tusuk tapi karena inflasi diputuskan harganya sama tetapi porsinya dikurangi.

Sate Kuda Gondolayu
Sate Kuda Gondolayu

IMG_20141225_143557

Sate Kuda
Sate Kuda

Sate kudanya enak, dagingnya empuk dan bumbunya meresap. Nasinya terasa keras, seperti kurang matang. Sehabis menyantap sate kuda, kami melanjutkan jalan kaki ke Artemy Italian Gelato karena menurut Google Maps letaknya cukup berdekatan. Sembari jalan kaki sambil berfoto-foto, akhirnya kami masuk ke gang yang agak sepi.

Becak
Becak

Jalan hampir ke ujung gang, akhirnya kami menemukan Artemy Italian Gelato di sebelah kanan gang. Di terasnya terlihat ada 4 meja bundar kecil berwarna putih, masing-masing meja dikelilingi 4 kursi dengan putih juga. Meja-meja tersebut kosong. Kami membuka pintu dan melangkahkan kaki ke dalam. Ruangan ber-AC lumayan menyejukkan hawa tubuh kami yang dari luar terkena terik matahari.

IMG_20141225_150637 IMG_20141225_150434 IMG_20141225_150707

 

Di dalam juga terlihat sekitar 4 meja seperti di luar, sudah 2 meja yang terisi. Mungkin anak gaul Jogja kalau nongkrong di sini. Kami melihat daftar menu: rum raisin, peach mango, strawberry sorbet, bloody orange, bubble gum, chocolate, oreo, dan lain-lain. 1 scoop seharga 15.000 (lima belas ribu) rupiah, setengah harga jika dibandingkan dengan kebanyakan Gelato di Jakarta.

Ours
Ours
Mine
Mine

 

Puas beristirahat, kami melanjutkan perjalanan, mumpung cuaca juga sudah mulai mendukung, tidak terlalu terik. Sembari berjalan kaki mencari taxi, Agnes menemukan toko tas “DOWA”, dan kami pun masuk ke dalamnya. Begitu masuk langsung tercium aroma terapi. Terlihat berbagai macam tas yang terbuat dari anyaman/rajutan.

Kata karyawatinya di lantai 2 masih ada juga jika pilihan tas di lantai 1 belum ada yang cocok, jadi kami pun naik ke lantai 2. Toilet di sini cukup bersih, saya dan Andrew menyempatkan diri cuci muka di wastafel biar agak seger dikit. Di lantai 2 juga ada semacam café indoor dan outdoor, tapi kami tidak sempat mencoba karena Agnes lebih sreg dengan pilihan tas yang ada di lantai 1.

Di sini jika menunjukkan member Garuda Indonesia bisa mendapatkan diskon sebesar 5%, sayangnya saya tidak membawa member card tersebut. Kami pun keluar dari bangunan yang didominasi warna putih itu dengan beberapa tentengan tas belanjaan, dan di seberang jalan kami melihat ada 2 taxi sedang ngetem di halte. Kami menyeberang dan bertanya berapa tariff sampai ke Mirota Batik, dan bapaknya bilang kalo taxi tersebut menggunakan argo. Jalanan agak macet, dan sampailah kami di seberang Mirota Batik dengan total harga argo 30.000 (tiga puluh ribu) rupiah.

Jalan Malioboro memang terkenal ramai karena banyak turis, jadi harus hati-hati ketika menyeberang karena banyak delman juga. Saat kami menyeberang ada kuda yang tiba-tiba mundur sehingga pinggang saya terseruduk kereta delman, lumayan sakit juga tapi untung tidak kenapa-kenapa. Ternyata Mirota Batik tutup sehingga kita hanya berbelanja kaos di depan toko tersebut.

Hampir setiap toko batik yang ada di sepanjang Jalan Malioboro kami masuki, salah satunya adalah “Batik Soenardi”. Di sini kami membeli Coklat Bar Sugar Free seharga 16.000 (enam belas ribu) rupiah, Alat Pijat Roda 2 Besar seharga 6.500 (enam ribu lima ratus) rupiah, Garukan seharga 5.000 (lima ribu) rupiah, dan Tempat Pensil Ulir Emas seharga 5.000 (lima ribu) rupiah.

Akhirnya sekitar pukul 6 sore kami sudah kelelahan dengan membawa beberapa tas belanjaan. Sesuai rencana kami akan mencari makan malam di Gang Degan sekalian kuliner, dan setelah mencari-cari akhirnya kami menemukan “Pempek On Top” yang dibilang Andrew unik karena ada menu “Pempek Cordon Bleu”.

Pempek On Top
Pempek On Top
Pempek Cordon Bleu
Pempek Cordon Bleu
Cuko
Cuko
Mat
Mat

 

Pempek Cordon Bleu 12.000 (dua belas ribu) rupiah dan Es Teh (Manis) 4.000 (empat ribu) rupiah. Seusai makan pempek kami melanjutkan mencari “Bakmie Kemetiran” yang kata teman Andrew enak, kami jalan lurus terus menyusuri Gang Degan sampai ke perempatan dan menyeberang ke Gang Kemetiran sesuai petunjuk dari Google Maps.

Agak ragu juga karena kata teman Andrew setelah ketemu salon di sebelah kiri, maka bakmienya di sebelah kanan. Tapi di sebelah kanan itu hanya gerobak dan kelihatan sepi, kami jalan sedikit lagi dan menemukan tempat makan “Bakmie Yammie” yang kelihatan lebih ramai dan meyakinkan. Kami memutuskan untuk makan bakmie ini dibanding yang di gerobak tadi, dan untungnya memang benar bakmie ini yang dimaksud.

Mie-nya halus dan kuahnya benar-benar berasa kaldu ayamnya, dan saya pribadi memang lebih suka dengan kuah bening seperti ini. Semangkok Bakmie Biasa 12.000 (dua belas ribu) rupiah, dan Bakso Ayam Goreng 5.000 (lima ribu) rupiah. Sehabis makan kami berjalan kaki menuju hotel tetapi kemudian ada becak yang menawarkan dengan harga murah.

Harga yang ditawarkan hanya 15.000 (lima belas ribu) rupiah, bisa dibilang setengah harga dibanding becak yang lain. Tetapi ternyata setelah kami naik, abang becaknya menawarkan kami ke “Bakpia Pathok” dulu sebelum ke hotel. Berarti abang becaknya pasti mendapatkan komisi dari Bakpia Pathok, kami pikir tidak apa hitung-hitung sekalian beli buat oleh-oleh nanti pulang.

Selagi di perjalanan abang becaknya bercerita bahwa hampir semua tukang becak di Jogja bisa Bahasa Inggris, dia sendiri malah bisa Bahasa Perancis katanya karena pernah tinggal di sana beberapa tahun. Jadi dulu dia kenal dengan orang Perancis dan ditawari bekerja di kebun anggur di daerah sana, tetapi kemudian dia kembali lagi karena tidak tahan dengan udara dingin.

Kami sampai di Bakpia Pathok yang ada pabriknya jadi bisa sekalian “ngintip” proses pembuatan bakpia, saya membeli 1 kotak bakpia dengan aneka rasa untuk teman kantor, 1 bungkus tempe pedas untuk cici, dan 1 bungkus tempe jeruk nipis untuk snack di kos. Seusai membeli oleh-oleh, kami diantarkan kembali ke hotel.

Sesampai di hotel kami berberes barang belanjaan, dan menelpon resepsionis untuk menyewa mobil. Saya berdiskusi apakah bisa subuh ke Borobudur untuk melihat matahari terbit, tapi katanya cuaca lagi mendung takutnya sudah subuh ke sana malah tidak bisa melihat apa-apa. Akhirnya saya memutuskan untuk menyewa mobil pukul 7.30 pagi.

DAY 3 – FRI, 26 DEC 2014

Ternyata pukul 7.30 pagi kami baru bangun, karena kesiangan langsung buru-buru mandi dan sarapan kemudian ke counter car rental di sebelah resepsionis hotel. Melakukan proses administrasi (tanda tangan, bayar, dan lain sebagainya) barulah kami berangkat menuju Candi Borobudur, pukul 8.35. Sepanjang perjalanan yang cukup macet disertai hujan kami mengobrol ngalur ngidul dengan sopirnya, mulai dari sate kuda, jejamuran, kaliurang, sampai kami bosan dan ketiduran.

IMG_20141226_084033

Sekitar pukul 10.30 akhirnya kami sampai di Candi Borobudur, masih disertai dengan hujan rintik-rintik meskipun sinar matahari lumayan terik. Banyak yang menawarkan topi dan payung, tapi kami (saya) berpikir repot juga jika harus nanjak sambil membawa payung dan kelihatannya juga hujan hanya sebentar jadi nekat saja tidak usah memakai payung.

Borobudur Map
Borobudur Map

 

Tiket masuk Borobudur seharga 30.000 (tiga puluh ribu) rupiah per orang, dan kemudian kami melihat ada antrian untuk naik kereta. Untuk naik kereta ini harus bayar lagi 7.500 (tujuh ribu lima ratus) rupiah sudah termasuk air mineral, kereta ini akan membawa kita mengelilingi komplek Candi Borobudur. Akhirnya kami memutuskan untuk naik kereta ini hitung-hitung menghemat tenaga ketika nanti akan menaiki tangga Borobudur.

Admission Ticket
Admission Ticket

Karena penumpang kereta ternyata banyak juga, kami duduk di depan bersama pengemudinya. Lumayan juga, diceritakan sedikit mengenai Candi Borobudur. Kami jadi mengetahui megenai beberapa museum yang sepertinya menarik tetapi kalah pamor dibanding dengan Candi Borobudur sendiri, kami juga jadi tahu kalau kebanyakan pedagang di dalam komplek Candi dulunya berjualan di luar komplek tetapi kemudian terjadi kebakaran sehingga mereka dipersilakan berjualan di dalam komplek Candi sampai tempat asal mereka dibangun kembali.

Admission Ticket
Admission Ticket

Akhirnya kami sampai di pintu masuk candi, dan mulai menaiki anak tangga satu per satu. Dikarenakan sudah siang, cuaca mulai terasa terik. Hujan yang tadinya rintik-rintik pun sudah berhenti, ternyata tepat sekali keputusan tidak membawa payung. Sambil menaiki tangga perlahan-lahan diselingi kata “permisi, permisi” karena pengunjung saat itu sudah ramai dan banyak yang berhenti di tengah jalan entah untuk beristirahat atau mengambil momen saat itu dengan kamera.

Setelah kurang lebih 30menit (termasuk beristirahat sebentar dan foto-foto), kami pun sampai di puncak candi. Pepohonan yang hijau, awan tebal yang berkumpul, langit biru, sinar matahari yang cerah, pokoknya kemegahan alam yang ada saat itu sungguh membuat hati senang.

IMG_20141226_114539 IMG_20141226_110610 IMG_20141226_111309 IMG_20141226_111504 IMG_20141226_111850 IMG_20141226_112507 IMG_20141226_112747 IMG_20141226_113032

Setelah puas foto-foto dan terlihat sudah mulai mendung lagi, kami pun bergegas turun. Keluar dari candi, kami menyempatkan untuk mampir ke salah satu museum yang ada. Di sini ada batu-batu asli Candi Borobudur, patung Buddha emas (paling tidak warnanya emas), dan kursus kilat membentuk miniature stupa dari tanah liat cukup dengan membayar biaya kursus seharga 10.000 (sepuluh ribu) rupiah.

 

Belajar membuat stupa
Belajar membuat stupa
Yasti
Yasti
Buddha emas
Buddha emas

Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30, perut pun mulai terasa lapar. Kami melanjutkan perjalanan menuju Jejamuran. Jejamuran memang sudah terkenal dan supir pun sudah tahu tempatnya jadi tanpa penjelasan yang panjang lebar kami langsung dibawa menuju ke sana. Ternyata perjalanannya jauh juga, ditambah macet dan tempatnya memang bukan di pinggir jalan raya, akhirnya kami sampai sekitar jam 2 siang.

Tempatnya ramai dan kami diberitahu walaupun ada meja kosong tetapi bisa menunggu 30-60 menit untuk antrian memasak makanannya. Karena sudah kelaparan dan kami tidak melihat ada pilihan lain, kami tetap memutuskan untuk makan di sini. Dekorasi jamur terlihat di mana-mana, ada live music juga. Sambil menunggu makanan kami membeli keripik jamur sebagai kudapan untuk mengisi perut agar tidak terlalu kelaparan.

IMG_20141226_143256 IMG_20141226_143234 IMG_20141226_143248

Ternyata tidak terlalu lama, sekitar 15-30 menit kemudian pesanan kami sudah dihidangkan. Menu yang kami pesan: Tongseng Jamur 11.000 (sebelas ribu) rupiah, Sate Jamur 13.000 (tiga belas ribu) rupiah, Dadar Shitake 20.000 (dua puluh ribu) rupiah, Jamur Bakar Pedas 13.000 (tiga belas ribu) rupiah, Jamur Goreng Penyet 15.000 (lima belas ribu) rupiah, Nasi Goreng Jamur 20.000 (dua puluh ribu) rupiah, dan Nasi Uduk Jejamuran Komplit 20.000 (dua puluh ribu) rupiah. >> Ulasan Jejamuran <<

Nasi Uduk Komplit
Nasi Uduk Komplit
Sate Jamur
Sate Jamur
Tongseng Jamur
Tongseng Jamur
Dadar Shitake
Dadar Shitake
Jamur Bakar Pedas
Jamur Bakar Pedas
Jamur Penyet
Jamur Penyet
Nasi Goreng Jamur
Nasi Goreng Jamur

Kenyang dengan aneka jamur, kami melanjutkan perjalanan ke Goa Maria Sendangsono. Perjalanan ditempuh selama kurang lebih 90 menit, dan kami sampai sekitar jam 5 sore. Berfoto, berdoa, berbelanja, tak terasa waktu sudah menunjukkan jam 6 sore. Rencana untuk melihat matahari terbenam sudah tidak memungkinkan, kami pun melanjutkan perjalanan pulang sekalian mencari makan malam di daerah perkotaan Yogyakarta.

IMG_20141226_174538 IMG_20141226_165234 IMG_20141226_170852 IMG_20141226_170943 IMG_20141226_172302 IMG_20141226_172430 IMG_20141226_172444 IMG_20141226_172747 IMG_20141226_172908

Perjalanan pulang cukup macet, kami sampai di Taman Pelangi kira-kira sudah pukul 8. Rencananya sekalian makan malam di sini, tapi setelah melihat-lihat sepertinya makanan yang ada kurang enak jadi kami hanya foto-foto di situ. Taman Pelangi ini semacam pasar malam yang diadakan di Monumen Jogja Kembali (MonJaLi), museum sejarah perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.

IMG_20141226_200501 IMG_20141226_195639 IMG_20141226_195823 IMG_20141226_200150 IMG_20141226_200214 IMG_20141226_200318 IMG_20141226_200339 IMG_20141226_200414

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan untuk mencari makan malam, rencananya ke sekitaran Keraton karena kata Andrew di situ ada bakmie jawa yang enak. Tetapi ternyata jalanan di sekitar Keraton ditutup karena ada sekaten (pasar malam) yang diadakan setahun sekali, dan karena sudah pukul 9 kami memilih untuk pulang ke hotel (paket sewa mobil 12 jam dari pukul 8.30 pagi).

Sesampai di hotel kira-kira pukul 10 malam dan kena charge 50.000 (lima puluh ribu) rupiah, seharusnya 85.000 (delapan puluh lima ribu) rupiah menurut perjanjian tetapi karena memang macet jadi sepertinya car rental-nya pun memaklumi. Setelah meletakkan barang belanjaan di kamar, kami keluar lagi untuk mencari makan malam. Rencana hanya di sekitaran hotel saja, makan nasi kucing di angkringan.

Angkringan yang kami temui ada yang gelap karena pencahayaan yang kurang, ada juga yang sempit dan ramai penuh dengan asap rokok, akhirnya kami terus mencari sampai menemukan angkringan yang lumayan nyaman: terang dan masih ada tempat duduk. Nasi Kucing sudah dengan teri dan sambal 2.000 (dua ribu) rupiah, Kopi Jos 3.000 (tiga ribu) rupiah, Tempe dan Sate sekitar 1.000-2.000 (seribu-dua ribu) rupiah.

PANO_20141226_113042 IMG_20141226_221514 PANO_20141226_110620

 

 

Advertisements

Feel free to comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s