4 Kebutuhan yang Biasa Diabaikan

  1. Kita butuh istirahat

Cintailah dirimu. Istirahatlah.

Kelelahan adalah wabah. Banyak orang yang lelah terus-menerus. Dan kita tahu mengapa. Wabah ini disebabkan oleh satu virus: virus stress berkepanjangan.

Anda tahu mengapa Anda lelah terus-menerus?

Berikut adalah tanda pasti dan jelas jika kita menderita penyakit ini: jika kita bangun di pagi hari dan sudah lelah.

Itu berarti tidur kita tidak menyegarkan. Itu berarti ada yang salah – kita tidak menangani kebutuhan kita untuk istirahat.

  1. Kita butuh mimpi

Cintai dirimu. Terus bermimpi. Mimpi adalah bahan bakar. Dalam suatu konferensi Katolik, saya berbicara tentang “Bagaimana Membuat Mimpi Kita Menjadi Kenyataan”. Itu disambut dengan baik. Orang-orang datang kepada saya dan berkata, “Bo, saya menjadi sangat bersemangat. Saya akan bermimpi lagi!” Tapi pembicara berikutnya adalah seorang imam. Dan ia menyerang pesan saya. Dia mengatakan, “Kita tidak perlu mengejar mimpi! Itu adalah egois. Kita seharusnya hanya memikirkan kehendak Tuhan.”

Saya menyebut ini spiritualitas yang berlebihan. Jika imam tersebut mengizinkan saya untuk bertanya, saya akan bertanya, “Tapi, Bapa, bagaimana saya bisa mengetahui kehendak Tuhan dalam hidup saya? Ya, kehendak Tuhan dapat ditemukan di dalam Kitab Suci dan doktrin-doktrin, tapi saya juga percaya kehendak Tuhan dapat ditemukan di dalam keinginan terdalam saya. Dia menanamkan mimpi di dalam jiwa saya. Saya butuh mendengarkan mimpi yang membakar di dalam hati saya”.

Teman, Tuhan mencipatakan kita sebagai pemimpi. Kita butuh membiarkan diri kita untuk bermimpi. Mimpi kita mungkin bisa sangat besar atau sangat kecil. Tapi kita tetap butuh untuk bermimpi, atau kita akan sekarat.

Mimpi saya besar. Saya ingin membangun 10,000 Feast di seluruh dunia, dimana setiap Feast akan menjadi mata air yang memancarkan kasih Tuhan ke seluruh dunia.

Jika diperhatikan, mimpi saya mungkin tidak akan terpenuhi dalam waktu dekat. Mungkin akan membutuhkan 10 tahun, atau lebih. Tapi tidak apa-apa. Saya menikmati setiap langkah dan jalan.

Beberapa mimpi kecil dalam ukuran tapi besar nilainya. Saya membicarakan tentang pria berusia 81 tahun. Dengan berbinar-binar dia berkata, “Saudara Bo, tolong berdoa agar Tuhan memberikan saya hidup yang lebih lama. Karena saya ingin bertemu cucu saya di Amerika”. Dia mengeluarkan dompetnya dan menunjukkan foto seorang gadis yang cantik berusia 5 tahun dengan lesung pipit pada senyumnya. Dia berkata, “Kesehatan saya tidak begitu baik, tapi setiap hari, saya mencoba untuk berjalan. Setiap hari, saya makan yang sehat supaya dapat bertemu cucu saya sebelum meninggal”.

Apa mimpi Anda? Kenali mimpi Anda. Tulis mimpi Anda. Berdoa untuk mimpi Anda. Umumkan mimpi Anda ke dunia. Dan buat mimpi Anda membangunkan Anda setiap hari.

  1. Kita butuh uang

Cintai dirimu. Dapatkan uang.

Saya pernah bertemu dengan orang-orang religious yang mengajarkan bahwa menabung adalah egois. Ini seperti dosa ganda: egois dan materalistis.

Tapi kita membutuhkan uang. Semua orang membutuhkan uang. Para biarawati yang menjalankan panti asuhan butuh uang. Imam yang mengendarai sepeda motor untuk merayakan Misa di perkampungan yang jauh butuh uang. Suami yang membeli mawar untuk meminta maaf dari istrinya butuh uang. Nenek di kursi goyang memikirkan bagaimana dia bisa membeli obat butuh uang.

Jangan mendapatkan uang untuk hari ini saja. (Lihat sekeliling kita. Kita tidak lagi tinggal di gurun, Musa tidak lagi bersama kita, dan kita tidak memakan manna untuk sarapan, makan siang, dan makan malam). Dapatkan uang untuk hari ini dan besok dan hari-hari berikutnya.

Jangan mendapatkan uang untuk diri sendiri saja. Itu egois. Dapatkan uang untuk diri sendiri dan anak yatim yang membutuhkan dan pembantu yang membantu kita dan pelayan yang melayani kita dan tukang cukur yang memotong rambut kita dan gereja yang memberkati kita. Jadi dapatkan uang sebanyak mungkin.

Dan terakhir, kebutuhan yang paling penting…

  1. Kita butuh cinta

Cintai dirimu. Berinvestasilah dalam hubungan. Inilah kebutuhan terbesar. Rekomendasi saya? Berinvestasilah dalam hubungan hari ini dan dapatkan keuntungan besar nanti.

Berinvestasilah dalam hubungan dengan pasangan kita. Anak kita. Saudara kita. Teman kita. Orangtua kita.

Apa yang harus diinvestasikan? Waktu kita. Perhatian kita. Pelayanan kita. Kesabaran kita. Pengampunan kita. Percayalah, keuntungan yang didapat tidak berasal dari dunia ini. (Secara harfiah. Saya berbicara tentang surga).

Teman saya Adrian Panganiban menunjukkan saya surat dari orangtua, dan itu sangat menyentuh. Saya kutip di sini karena ingin menunjukkan pada akhir hidup kita, yang kita butuhkan adalah cinta kasih melebihi apapun di dunia ini.

Saya tidak bisa menemukan sumber yang asli dari surat ini jadi silahkan mengirimkan email jika ada. Berikut suratnya…

 

 

 

Tolong Bersabarlah denganku

 

Anakku,

 

Semakin aku tua, tolong bersabarlah denganku.

 

Ketika aku menjatuhkan barang-barang dan membuat makanan jadi berantakan, aku harap kamu tidak berteriak atau memarahiku. Tolong bersabarlah denganku.

 

Ketika mataku semakin rabun dan jatuh waktu berjalan, atau ketika pendengaranku semakin buruk dan tidak bisa mendengarmu, tolong bersabarlah denganku.

 

Ketika terjadi hal-hal yang memalukan dan sulit, jika kamu bisa memegang tanganku dan mengatakan bahwa kamu mengerti… maafkan aku anakku, aku semakin tua. Tolong bersabarlah denganku.

Ketika kaki dan lututku semakin lemah, ketika aku tersandung ketika melangkah dan berjalan semakin pelan, aku harap kamu ingat saat-saat ketika aku mengajarimu berjalan. Tolong bersabarlah denganku.

 

Ketika aku kerap mengulang ceritaku padamu, terkadang bisa empat atau lima kali sehari, senyumlah dan anggap saja aku baru menceritakannya pertama kali. Karena ingatanku semakin lemah, aku benar-benar merasa itu adalah pertama kalinya aku menceritakannya kepadamu. Ingatlah ketika kamu masih kanak-kanak. Ingat berapa banyak kali kamu bertanya, “Apa kita sudah sampai?” setiap kali kita pergi berangkat ke suatu tempat. Atau berapa banyak kali kamu bertanya, “Mama, bisakah beli mainan ini?” setiap kali kita berada di toko mainan? Tolong bersabarlah denganku.

 

Ketika aku tidak wangi lagi, dan bauku seperti orang tua, tolong bersabarlah denganku. Ketika aku tidak wangi lagi, aku harap kamu ingat ketika masih kecil, kamu juga sering berkeringat dan bau. Tapi aku mencintainya karena itu adalah bagian dari masa pertumbuhanmu. Bauku berarti aku semakin tua. Tolong bersabarlah denganku.

 

Ketika aku cepat marah atau tersinggung, atau ketika aku tiba-tiba murung dan sedih, atau ketika aku jadi suka menuntut dan meminta, ini semua adalah tanda bahwa aku semakin tua. Kamu akan mengerti ketika menjadi tua. Tolong bersabarlah denganku.

 

Ketika kamu ada waktu, aku harap kamu mengunjungiku. Mengobrol denganku selama beberapa menit. Aku selalu sendirian dan tidak punya teman ngobrol. Aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaanmu tapi pekerjaanmu akan tetap ada, bahkan setelah aku pergi. Aku tidak akan ada di sini selamanya. Tolong bersabarlah denganku.

 

Bahkan ketika kamu tidak tertarik dengan ceritaku, tolong berpura-pura kamu tertarik. Apakah kamu ingat ketika aku sering mendengar cerita tentang mainan, teman, dan film yang kamu tonton? Menurutku itu tidak menarik, tetapi karena hal tersebut penting bagimu, maka hal tersebut pun menjadi penting bagiku. Aku memintamu untuk tolong bersabarlah denganku.

Ketika tiba waktunya aku sakit dan terbaring di tempat tidur, aku harap kamu mengunjungiku. Maaf jika aku tidak sengaja ngompol atau membuat berantakan. Aku harap kamu tinggal denganku pada detik-detik terakhir hidupku. Aku tidak akan lama lagi. Tolong bersabarlah denganku.

 

Aku berdoa untukmu setiap hari. Ketika aku akhirnya dipanggil Tuhan, aku akan terus untuk menyebut namamu padaNya.

 

Aku mencintaimu.

Kami mencintaimu.

Tolong bersabarlah denganku.

 

Selamanya,

Ayah dan Ibu

 

Jadi saya ulangi: berinvestasilah dalam hubungan.

Keinginan terindah saya untuk Anda?

Semoga Anda menjadi tua bersama dengan orang-orang terkasih.

 

 

 

  • Kutipan ini diambil dari buku You’re Weird (In a Wonderful Way) by Bo Sanchez.

 

Sumber: http://shepherdsvoice.com.ph/blog/posts/inspiration/four-needs-usually-neglect/

Advertisements

Feel free to comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s