Tokyo (Part 3: Tsukiji, Harajuku, Akihabara, Tokyo Tower) [2015.04.04-2015.04.05]

SABTU, 4 APRIL 2015

Di itinerary awal seharusnya hari ini ke: Tokyo Imperial Palace, Ghibli Museum, Meiji Shrine, Harajuku, Akihabara. Tetapi karena kita tidak mendapatkan tiket ke Ghibli Museum, jadi ditukar hari ini kita sarapan ke Tsukiji Fish Market! Cuaca masih mirip dengan hari kemarin, mendung hujan rintik-rintik. Begitu sampai kita langsung mencari tempat pelelangan ikan tuna yang memang terkenal di sini.

IMG_20150404_093438.jpg

Tempat pelelangan ikan tuna memang menjadi salah satu ‘atraksi’ tersendiri di sini, dimana untuk melihat proses pelelangan tersebut kita harus mendaftar terlebih dahulu pada subuh pukul 5 pagi. Setiap hari hanya dibatasi 120 orang pengunjung, yang akan dibagi 2 sesi: 60 orang pertama pada pukul 5:25-5:50 dan 60 orang berikutnya pada pukul 5:50-6:15.

Memang kita tidak berniat untuk menyaksikan pelelangan tersebut, tetapi hanya ingin foto-foto saja dan siapa tahu bisa masuk meskipun sudah pasti proses pelelangan sudah selesai. Ternyata memang tempatnya sudah tutup, jadi tidak bisa masuk sama sekali. Kita berkeliling saja sambil mencari sarapan. Meskipun namanya “pasar ikan”, tetapi sangat bersih untuk ukuran pasar ikan dan tidak terlalu tercium bau amis.

Saya pernah menonton di Kokoro No Tomo Metro TV katanya hal ini dikarenakan di pasar ikan ini air selalu mengalir, jadi bau amis akan selalu terbawa air ke tempat pembuangan. Kondisi pasar sangat sibuk, banyak yang berlalu lalang dengan menggunakan alat transportasi khusus bernama “Turret Trucks”. Ramai tapi tertata rapi. Salut!

Sepanjang perjalanan dari Tsukiji Station ke pasar Tsukiji-nya sendiri banyak warung makan berjejer di sisi kiri-kanan jalan DAN SEMUANYA MENGANTRI! Saya langsung ingat pernah baca di kaskus ada yang bilang “kalo ke Tsukiji pasti kaget semua tempat makan pada ngantri. Ikut antri aja bebas. Ga bakal kecewa”.

Agnes membeli kerang bakar gitu, fresh! Jadi kerangnya hanya dibakar menggunakan lemon dan (sepertinya) kecap asin atau kecap ikan. Lina membeli tamagoyaki, telur dadar tapi sepertinya dipakein gula jadi ada rasa manis-manisnya gitu. Enak-enak deh pokoknya jajanan di sini. Sedap!! Karena hanya jajanan, kami lanjut mencari sarapan yang agak mengenyangkan.

IMG_20150404_105108.jpg

Nick dan saya mencari sushi/sashimi biar tahu rasa ikan segar asli dari Jepang itu seperti apa. Yang lain karena tidak suka makanan mentah lebih memilih makan ramen dekat situ juga yang lumayan ramai. Dingin-dingin makan ramen sepertinya memang mantap, tetapi gambar-gambar sushi/sashimi yang ada juga sangat menggoda selera.

IMG_20150404_112450.jpg

Sambil antri kami melihat-lihat menu dulu. Harganya lumayan ya, lebih mahal dibandingkan yang rata-rata kita makan selama ini di pinggiran-pinggiran gitu. Tetapi tidak apa-apalah sesekali ini. Akhirnya giliran kita duduk dan kami langsung memesan makanan. Makanan pun datang dan bentuknya sama dengan yang ada di gambar.

IMG_20150404_113045.jpg

Ikan segarnya memang beda. Langsung lumer di lidah dan tidak begitu terlalu terasa amis. Tinggal cukup diolesi sedikit wasabi untuk membunuh bakteri dan shoyu untuk menambah rasa. Ditambah nasi jepang yang memang pulen dan masih hangat-hangat, hmm enak banget rasanya. Membayangkannya lagi saja saya langsung merasa lapar.

IMG_20150404_113333.jpg

Selesai nikmat bersantap kami lanjut ke Tokyo Imperial Palace. Foto-foto dan bersantai dulu di tamannya. Sambil menghabisi jeruk yang dibeli malam sebelumnya. Ada tap water jadi kita mengisi air minum dulu, dan ada juga kios beserta toilet. Di dekat kios itu terdapat patung. Sempat foto-foto juga para siswi SMA yang sedang makan siang di taman. Kali ini roknya panjang bukan pendek, mereka ketawa-ketawa saja ketika difoto. Banyak juga turis yang memotret mereka.

IMG_20150404_133216.jpg

Kami lanjut mau masuk ke Imperial Palace-nya, tetapi tidak bisa karena memang harus registrasi terlebih dahulu. Jadi kami hanya berfoto-foto lagi sambil jalan menuju ke Meiji Shrine. Jalanan menuju Meiji Shrine banyak pohon-pohon besar jadi seperti berasa lagi di hutan. Hutan di tengah kota, benar-benar menarik.

IMG_20150404_142158.jpg

Di Meiji Shrine sedang dilangsungkan acara pernikahan. Tanpa membuang kesempatan semua pengunjung langsung ikut mengabadikan momen tersebut. Kami terus memotret sampai sang pengantin dan keluarganya pergi. Kami lanjut berkeliling sebentar di situ sambil foto-foto sampai puas. Setelah itu kami menyeberang ke “Takeshita Dori” di Harajuku.

IMG_20150404_153807.jpg

Gang sepanjang 400 meter ini memang sangat penuh dengan orang. Kami mengambil peta dulu sebelum masuk gang, membagikan masing-masing, dan membuat kesepakatan bertemu lagi di sini jam 6. Saya, Agnes, Lina, dan Wandi mampir dulu ke Daiso, toko serba dengan harga yang sama untuk semua barang: 100 yen (belum termasuk pajak). Kami membeli beberapa oleh-oleh, dan panganan untuk kami camil hari itu.

Kami lanjut menyusuri Gang Takeshita sambil foto sana-sini dan melihat fashion yang unik-unik. Meskipun sangat ramai, tetapi sama sekali tidak saling dorong-mendorong. Semuanya berbaris dan berjalan pelan dengan sangat rapi, tas ransel pun dengan cuek ditaruh di punggung tidak perlu dipindahkan ke depan. Tidak ada kekhawatiran tas kita akan dibuka dan isinya diambil atau diisengi/dijahati. Aman.

Kemudian saya melihat kios crepes. Nama kiosnya “Angels Heart“. Tentu saja harus beli dan difoto dulu sebelum makan biar eksis. Ada beberapa kios crepes, dan yang pasti semuanya ramai. Saya lihat menunya mirip-mirip, ya sudah asal antri saja di salah satu kios. Saya membeli 1 untuk dimakan berdua dengan Agnes, dan Wandi juga membeli 1 untuk dimakan berdua dengan Lina. Kemudian di kios crepes seberang kami bertemu dengan Ferry-Nick, dan mereka juga membeli 1 untuk dimakan berdua. Ngga sih, mereka membeli masing-masing 1. Entah kenapa memang terkenalnya di sini makan crepes sambil jalan-jalan santai. Padahal rasanya biasa saja.

IMG_20150404_164102.jpg

Sudah jalan sampai ujung gang tidak ada yang tertarik, sepertinya memang fashion di sini kurang cocok dengan selera kita. Kami balik lagi tetapi kali ini menyusuri sisi seberang gang. Wandi mampir di salah satu toko dan membeli tas punggung seharga kurang lebih 5,000 (lima ribu) yen. Agnes juga tertarik dengan salah satu sepatu tetapi tidak ada ukurannya yang pas. Di toko ini kami bertemu dengan pengunjung orang Indonesia yang sedang sekolah/kuliah sambil kerja di Tokyo.

Lanjut. Wandi tiba-tiba bilang “eh ada kalbe”. Di pikiran saya Kalbe itu obat.

“Kalbe?”, Tanya saya bingung kenapa dia mencari obat.

“Iya, dulu waktu tinggal di Singapore suka beli. Enak, kentang banyak rasa gitu”.

Akhirnya kelihatan yang dimaksud dia. Ternyata tulisannya ‘Calbee’. Jadi kami mampir di Calbee. Ramai tokonya. Bisa beli yang produknya yang sudah dibungkus rapi untuk oleh-oleh, bisa juga beli kentang goreng fresh untuk dimakan langsung. Agnes membeli beberapa yang sudah di-packing, dan juga sambil mengantri untuk mencoba kentang yang dibilang enak oleh Wandi. Saya membeli paket beserta minuman Pepsi Cola seharga 410 (empat ratus sepuluh) yen. Enak sih, tetapi tidak sampai membuat ketagihan.

IMG_20150404_173505

IMG_20150404_174557

IMG_20150404_173422

Sudah balik lagi ke tempat awal kita janji untuk ketemu. Karena belum melihat atau tidak kelihatan Ferry dan Nick, jadi kami membeli KitKat dulu di drug store dekat pintu masuk gang. Selama ini kami perhatikan memang harganya paling murah di sini, jadi langsung sikat saja untuk oleh-oleh. Antriannya ramai, sudah bosan deh dengan keramaian di sini. Ada KitKat mini pack dengan rasa green tea, chocolate, dark chocolate, cheese cake, juga beserta Pocky rasa green tea dan chocolate.

Satu hal lagi yang masih belum dicoret dari to-do-list saya di Harajuku yaitu adalah berfoto di purikura! Purikura atau photo booth sama halnya dengan crepes, adalah hal-hal yang katanya wajib dinikmati di sini. Meskipun sebenarnya biasa saja sih tetapi demi eksis tentu saja harus kita lakukan. Karena sudah terkumpul lengkap, kita langsung menuju photo booth terdekat. Karena bahasanya yang susah dimengerti, asal pencet saja pokoknya jadi.

Semuanya menjadi cantik
Semuanya menjadi cantik

Setelah beres urusan di sini, kami mau melanjutkan perjalanan ke Akihabara. Memang kalau tidak salah bisa jalan kaki dari Harajuku, tetapi berhubung sudah malam, banyak barang bawaan, dan kaki sudah mulai sakit, kami mencari subway terdekat. Sempat nyasar tapi akhirnya sampai juga di Akihabara Station. Kami makan dulu di stasiunnya karena sudah mau jam 8 dan lapar. Saya makan udon tanpa kuah dengan telur setengah matang seharga 550 (lima ratus lima puluh) yen. Enek karena memang saya tidak suka telur setengah matang, saya akali dengan mengaduk-aduk telurnya dengan udon agar amis telur tidak terlau terasa.

IMG_20150404_195521

IMG_20150404_195823

Seusai makan kami berkeliling Akihabara tetapi ternyata toko-tokonya sudah pada tutup. Akhirnya kami hanya berfoto-foto dan mampir ke “AKB48 Café & Shop”. Di sini Nick bertemu dengan temannya yang sedang kuliah di Jepang. Di samping “AKB48 Café & Shop” ada “Gundam Cafe”. Ketika sedang dalam perjalanan kembali ke stasiun, kami melewati game centre dan ada permainan ufo catcher.

Gundam Cafe
Gundam Cafe
AKB48 Cafe&Shop
AKB48 Cafe&Shop

Sekali main bayar 100 (seratus) yen, tetapi jika membeli langsung 500 (lima ratus) yen bisa main 6 kali. Ya sudah saya coba yang harga 500 yen untuk 6 kali main. Setiap kali main selalu nyaris rasanya. Ada yang sudah berhasil keambil, tetapi ketika sedang diangkut malah jatuh. Sampai akhirnya sudah putus asa pada kesempatan terakhir, eh malah berhasil!

Saya main ufo catcher tidak pernah berhasil, sekalinya berhasil malah di negeri orang. Sepertinya memang permainan di sini dibuat agak lebih mudah jadi yang bermain juga bisa menikmati, tidak berasa ditipu. Jadi malam itu kami membawa pulang Mokona dari serial “Magic Knight Rayearthkarangan Clamp. Yeay!!

Mokona!
Mokona!

Pulangnya karena masih jam 9, kami mampir dulu ke “Don Quijote” Asakusa yang dekat dari hostel. Kami membeli “Chocobi Chocolate” (snack kesukaan Crayon Shin-chan) seharga 100 (seratus) yen, permen obat “Vicks” dengan berbagai macam rasa masing-masing seharga 295 (dua ratus sembilan puluh lima) yen, maunya juga beli es krim “HäagenDazs” rasa sakura tetapi sayang sekali tidak ada. Harga di Don Quijote ini belum termasuk pajak 8%. Selesai berkeliling dan antrian membayar yang seperti ular meliuk-liuk panjangnya, kami sampai di hostel malam juga sudah sekitar jam 11an. Mandi, dan siap-siap beristirahat. Enak juga kalau kayak hari ini, tidak terlalu terburu-buru dan jadinya menikmati juga. Plus dapat bonus boneka. Thanks God.

Don Quijote
Don Quijote

MINGGU, 5 APRIL 2015

Paginya (yang kesiangan) kami Misa dulu di salah satu “Asakusa Catholic Church“. Karena datang telat, kami duduk di paling belakang menggunakan kursi satuan. Banyak anak-anak juga jadi berisik. Jika di Kyoto kami menghadiri Misa dengan mengantuk karena tidak mengerti bahasa, kali ini tidak khusyuk juga karena banyak anak-anak yang bermain-main. Alasan pasti selalu ada.

Asakusa Catholic Church
Asakusa Catholic Church

Sepertinya Pastor yang memimpin Misa pada hari itu sudah berakhir masa tugasnya dan akan dipindahkan ke daerah lain jadi sehabis Misa diadakan acara makan bersama kecil-kecilan, kita juga diajak berfoto bersama tetapi terpaksa kami tolak dengan sangat sopan dan halus karena segan. Kami juga ditawari telur paskah rebus, yang awalnya kami tolak tetapi ambil juga setelah dipikir-pikir lumayan buat hemat makan.

Easter Eggs
Easter Eggs

Ada juga gelang Rosario yang bisa diambil dan memberikan sumbangan serelanya, saya mengambil beberapa untuk oleh-oleh keluarga. Nick juga sempat mengambil satu dan menitip ke saya sambil dia mengambil uang. Karena tangan penuh dengan barang-barang, saya lupa Rosario Nick ditaruh di mana. Ketika akhirnya dia minta lagi titipan Rosarionya, saya bilang mungkin karena tangan penuh tanpa sadar dibalikkin ke kotak Rosario. Jadi dia ambil lagi dari kotak tersebut dan kami berjalan keluar Gereja untuk melanjutkan perjalanan.

Kami mampir makan siang dulu di salah satu restoran pinggir jalan, dan karena lantai 1 penuh kami naik ke lantai 2. Sehabis pesan menu, saya meraba-raba kantong jaket dan menemukan satu buah Rosario. Ternyata ini Rosario yang Nick titip, berarti Rosarionya terbawa lebih. Ya sudah lah, anggap saja rezeki. Makanan pun datang, dan saya bingung telurnya mau dimakan sekarang apa nanti, dan setelah tanya-tanya yang lain jadinya dimakan nanti saja.

Karena semalam kita tidak sempat keliling Akihabara, jadi hari ini kita ke sana lagi. Berkeliling ke toko-toko yang besar dan sepertinya sudah terkenal, temannya Ferry dan/atau Nick yang tahu dan mendapat titipan/rekomendasi dari mereka untuk membeli action figure gitu.

Saint Seiya 1:1
Saint Seiya Cloth 1:1

Saya sih karena memang tidak hobi seperti ini, jadi ya hanya jalan-jalan biasa saja. Ingin beli sebagai kenang-kenangan tetapi harganya mahal, paling murah 1,000 (seribu) yen itu juga yang kecil dan tidak terlalu terkenal/bagus. Katanya sih jika cari di Jakarta harganya bisa lebih mahal, jadi mereka memborong di sini.

Garo
Garo

Di salah satu toko yang ada 8 lantai, saya tiba-tiba kebelet buang air besar. Tapi karena setiap lantai hanya ada 1 toilet, dan tokonya lumayan ramai, jadi toiletnya pun pasti antri. Mulai dari lantai 8 saya mau ke toilet karena penuh, turun ke lantai 7. Lantai 7 juga penuh, jadi turun ke lantai 6. Lantai 6 masih penuh, saya bilang ke Nick yang lagi bersama dengan Ferry, kalau saya mau turun duluan buat ke toilet. Karena lantai 5 penuh, saya pikir setiap lantai pasti penuh jadi mau tidak mau harus antri.

Saya naik lagi ke lantai 6, bilang ke Agnes untuk menunggu saya ke toilet di sini. Antriannya sih hanya 3 orang, tetapi orang yang di dalamnya lama banget. Sampai ada yang ketok, lebih dari 15 menit dia di dalam situ. Begitu dia selesai yang lain tidak terlalu lama, saya juga berusaha cepat biar bisa gentian dengan orang lain dan memang sudah menghabiskan banyak waktu di toilet ini.

Yang bingungnya ketika mau flush, “koq kali ini ga ada tombolnya?” Biasanya kan toilet Jepang banyak tombolnya, kali ini tidak ada. Setelah panik sedikit dan mencoba menenangkan diri, saya mulai memperhatikan setiap sudut toilet siapa tahu ada tuas untuk flush. Eh, untungnya kebaca tulisan dalam Bahasa Inggris “to flush, please cover this sensor”. Untunglah. *lap keringat*

Seusai buang racun, saya mencari mereka. Berkeliling di satu lantai itu tidak ketemu juga. Saya sampai membeli minuman coklat panas dari vending machine untuk menenangkan diri dan berpikir. Akhirnya saya memutuskan turun. Eh ternyata benar mereka sudah di bawah. Ternyata ada sedikit salah paham, ketika saya bilang ke Agnes untuk menunggu di lantai atas tadi, saya tidak ralat ke Nick dan Ferry. Jadi mereka pikir saya ke toilet di lantai bawah.

Sudah jam 4, kami lanjut ke “Zojoji Temple”. Di sini hanya foto-foto sakura dan “Tokyo Towerdari kejauhan. Foto-foto sebentar gerbangnya, temple, bunga-bunga, doa dan permohonan, kemudian lanjut jalan ke Tokyo Tower. Sepanjang jalan ke Tokyo Tower juga berfoto-foto karena jalanannya yang sepi dan banyak pohon-pohon cantik.

Gerbang
Gerbang
Zojoji Temple
Zojoji Temple
Zojoji Temple & Tokyo Tower
Zojoji Temple & Tokyo Tower
Sakura
Sakura

Sampai di Tokyo Tower kami ke foto-foto dulu di depannya yang ada dekorasi One Piece, dan sambil antri foto – karena banyak anak-anak yang foto juga – kami membeli “Marion Crepes” seharga 470 (empat ratus tujuh puluh) yen sebagai camilan dan duduk-duduk dulu mengistirahatkan kaki. Sudah sore, kami masuk ke Tokyo Tower. Kami ke toilet dulu karena kebelet buang air kecil, kemudian langsung menukarkan voucher “One Piece Tower” yang sudah dibeli online sebelumnya seharga 3,000 (tiga ribu) yen.

Tokyo Tower
Tokyo Tower

IMG_20150405_171509

IMG_20150405_170408

Bagian pertama dari indoor theme park ini adalah “Encounter Cave“, lorong pengenalan anggota “Strawhat Pirates”. Mulai dari Luffy, Zoro, Nami, Sanji, Usopp, Chopper, Robin, Franky, dan Brook. Setiap karakter pengenalannya berupa adegan dari komik tetapi diberikan efek tertentu sesuai dengan tokoh tersebut. Misalnya ketika kita berdiri di depan gambar adegan Robin, akan ada efek bayangan tangan-tangan (Hana Hana no Mi) mengelilingi gambar adegan Robin itu.

IMG_20150405_180350

Lewat dari “Encounter Cave” kita masuk ke “Tongari Port“, dimana anggota Strawhat Pirates sedang menikmati hidangannya. Di sini ada patung masing-masing tokoh yang tentu saja bagus untuk dijadikan obyek foto. Ada Sanji dan Zoro yang sedang bertengkar, Brook sedang memainkan alat musiknya, dan lain-lain.

IMG_20150405_182025

Kemudian kita naik ke lantai berikutnya melalui escalator yang juga tiap anak tangganya dihias dengan karakter-karakter One Piece. Di lantai ini terdapat berbagai macam permainan sesuai dengan masing-masing tokoh “Bajak Laut Topi Jerami”, di antaranya adalah: “Franky’s Cola Bar“, dimana kita bisa membeli snack dan cola;  Robin’s Finding Poneglyph”, sepertinya permainan teka-teki, kita mencari Poneglyphs dengan petunjuk dari Robin; permainan menembak “Usopp’s Road to Sogeking”, rumah hantu “Brook’s Horror House”; dan “Chopper’s Thousand Sunny Tours”.

Sepertinya memang kita kesorean ke sini jadi tidak bisa mencoba semua permainan, jadi hanya dipilih saja kira-kira yang menarik. Tidak disangka sih bisa sebanyak ini permainannya, di bayangan kita hanya seperti “Gundam Front”. Kita mengantri di “Chopper’s Thousand Sunny Tours”, dimana kita akan dibawa menjelajah bagian-bagian dari “Thousand Sunny” seperti: dapur, kamar Nami, dan sebagainya.

Setelah mengelilingi ruangan Thousand Sunny, kita naik lagi ke lantai berikutnya. Di lantai ini kita mengambil jadwal dulu untuk “One Piece Live Attraction“, dan sambil menunggu kita mengantri untuk menonton film 4D “Luffy’s Endless Adventure“. Selain nonton di sini juga kita bisa berfoto-foto dengan patung Trafalgar Law, Ace, melewati “terowongan api”, dan beberapa adegan-adegan mengharukan dari komik seperti ketika Robin dipenjara dan Luffy diberikan topi jerami oleh Shanks, ada juga property seperti hidung badut Buggy, dan siluet para tokoh Gladiator.

IMG_20150405_194821

Fire Fist Ace
Fire Fist Ace
Terowongan Api
Terowongan Api

Karena masih belum juga waktunya untuk menonton “One Piece Live Attraction”, Hendro-Nick-Ferry mengantri lagi menonton 4D “Luffy’s Endless Adventure”, dan Agnes-Lina-Wandi ke bawah membeli “Franky’s Cola” seharga 600 (enam ratus) yen. Seusai menonton kami mengantri untuk menyaksikan One Piece Live Attraction, dan kami dipinjamkan semacam lampu stick. Ini hanya sebagai property untuk pertunjukkan nanti, pertunjukkannya sendiri menghibur. Meskipun kita tidak mengerti karena masalah bahasa, tetapi orang-orangnya mirip dengan anggota Bajak Laut Topi Jerami.

Selesai pertunjukkan kami mencoba “Usopp’s Road to Sogeking” dulu sekali sebelum pulang mumpung antrian sudah mulai sepi. Dalam permainan ini kita menggunakan katapel untuk menembak prajurit dari marine sampai kita berhasil membebaskan Robin. Terbagi dalam 3 tahap, dimana tahap terakhir adalah yang paling sulit karena harus menembak tepat ke lubang kecil agar menang. Banyak yang gagal, sedikit yang berhasil. Kita? Gagal total semua dong!

Sekitar setengah 9 kita memutuskan untuk pulang karena takut toko oleh-oleh pada tutup. Banyak titipan “Tokyo Banana” dan memang ketika kita naik tadi melihat banyak toko yang menjual panganan tersebut. Selain Tokyo Banana, banyak oleh-oleh lain juga seperti magnet kulkas, handuk, gantungan kunci, boneka, kaos, dan sebagainya.

IMG_20150405_201556

IMG_20150405_203725

IMG_20150405_201841

Kurang lebih 1 jam kita habiskan untuk belanja cinderamata. Pulang kita berfoto-foto lagi sekitar 15 menit di luar Tokyo Tower. Lampu Tokyo Tower menyala dengan sangat terang sehingga cantik dipandang. Untuk selfie dengan latar belakang Tokyo Tower agak susah karena kena backlight, jadi harus diakali dengan menggunakan flash.

Tokyo Tower
Tokyo Tower

Kita berjalan menuju stasiun terdekat, tetapi mampir dulu di salah satu tempat makan untuk makan malam. Di sini saya dan Agnes memesan menu set, soba dan nasi dengan “bakwan goreng”. Sengaja memang kami memesan “menu hemat” karena masih ada telur Paskah rebus yang kami dapat tadi pagi.

Ketika makan kami dihampiri ibu yang punya tempat makan (sepertinya) dan tanya “what is this?” sambil nunjuk-nunjuk ke telur Paskah rebus. Kami sudah gugup takutnya tidak boleh membawa makanan dari luar, tetapi Ferry dengan santainya jawab ‘egg’. Ibunya tersenyum kemudian balik ke dapur. Kita berasa ibunya galak, tetapi Ferry bilang ibunya hanya penasaran ini apa.

Selain kita ada juga turis dari Thailand (kayaknya). Pesanan mereka sepertinya bermasalah, entah kurang atau apa. Ketika mereka Tanya ke ibu, dengan nada yang agak keras dan tinggi (menurut saya) ibunya balik bertanya “what do you order?”. Turis dari Thailand pun terlihat takut. Entah memang suara si ibu agak keras atau lagi galak. Entahlah, yang pasti ini pertama kali dan satu-satunya pengalaman makan di Jepang dan merasa pelayanannya galak bukan ramah.

Easter Egg
Easter Egg
Paket Hemat
Paket Hemat
Chirp
Chirp
Advertisements

Feel free to comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s