Tokyo (Part 4: Fujiko F. Fujio Museum, Tokyo Skytree) [2015.04.06-2015.04.07]

SENIN, 6 APRIL 2015

Kami membeli tiket “Fujiko F Fujio Museum” (atau terkenal juga dengan nama “Doraemon Museum”) untuk pukul 10 pagi. Karena kesiangan dan sebagainya, saya melihat jam dan takut juga sepertinya akan telat. Setiap beberapa menit saya melihat jam. “Pasti telat nih” pikir saya, dan setahu saya pernah baca jika telat tidak boleh masuk. “Wah kalau telat kan tiketnya hangus, gimana ya?”, saya pastinya kesal tetapi mencoba have fun saja.

Kalau pun telat harusnya bisa diganti dengan acara lain. Saya mulai googling. Tapi sebelumnya saya googling dulu apakah kira-kira ada batas keterlambatan di “Doraemon Museum” ini. Untungnya, ada batas toleransi keterlambatan selama 30 menit. Agak lega tapi tetap saja masih deg-degan karena mepet waktunya.

Rencana awal kita akan jalan kaki dari stasiun kereta ke museum karena sepanjang jalan katanya banyak patung-patung karya Fujiko F Fujio yang menghiasi di pinggir jalan, baru pulangnya naik bis yang tentu saja dihiasi karya-karya Fujiko F Fujio juga. Tetapi karena waktunya mepet, kita langsung naik bis untuk menuju museum.

Begitu sampai, kita langsung antri dan syukurlah masih bisa masuk. Ambil English audio guide, yang cara kerjanya sama dengan di Osaka Castle. Jika kita melihat suatu gambar dan ada nomor misalnya “32”, kita tinggal pencet angka “32” di audio guide tersebut dan penjelasan bisa langsung didengar. Ruangan pertama adalah karya-karya awal Fujiko F Fujio.

Di ruangan pertama ini juga ada sedikit pengetahuan umum tentang proses menggambar komik. Serunya, proses tersebut dibagi beberapa tahap dan dijelaskan oleh Doraemon dan Nobita dalam bentuk video hologram. Bagian ini yang paling banyak diminati anak-anak dan didampingi orang tuanya. Banyak juga turis dari Chinese dan Indonesia.

Di ruangan kedua, dipamerkan karya-karya Fujiko F Fujio dimana temanya adalah ‘Superhero’ karena dalam rangka film bioskop “Doraemon: Nobita and the Space Heroes” akan segera tayang. Di sini dijelaskan karya Fujiko yang bertemakan pahlawan super, yang saya tahu salah satunya adalah P-Man. Diceritakan kalau seseorang bisa menjadi pahlawan bukan dari kekuatan atau fisiknya, tetapi dari hati dan perbuatan baiknya.

Ruangan selanjutnya ada replica meja kerja Fujiko, kehidupan keluarga (istri dan dua putrinya), sampai akhirnya surat dari sang istri untuk almarhum suaminya. Baca suratnya jadi sedih, terharu, tetapi sekaligus senang dan bersyukur Fujiko pernah terlahir di dunia ini dan melahirkan karya-karya yang menghiasi masa kecil saya terutama Doraemon.

Selesai dengan air mata, keluar dari ruangan tersebut kita harus mengembalikan audio guide karena ruangan berikutnya sudah merupakan tempat rekreasi dan bukan museum lagi. Ada tempat bermain, manga reading room, toilet, gachapon, dan bioskop mini untuk menonton film pendek. Pertama-tama tentu saja langsung mengambil jadwal untuk menonton film pendek.

IMG_20150406_115118IMG_20150406_115450IMG_20150406_115205IMG_20150406_115136IMG_20150406_115129

Sambil menunggu, saya dan Agnes mencoba bermain gachapon. Dapatnya jelek-jelek/kami tidak kenal. Sedih. Keliling-keliling dan berfoto-foto di dalam ruangan tersebut sambil menunggu jam pemutaran film pendek. Akhirnya antrian dibuka, kami pun mengantri dengan tidak sabar. Tiket nontonnya lucu, kecil dan nantinya akan dilubangi berbentuk huruf ‘F’.

Kami masuk dan memilih tempat duduk. Film pendeknya bercerita tentang Doraemon dan seorang anak perempuan yang berteman dengan tikus (sepertinya berasal dari luar angkasa). Anak perempuan tersebut tidak pandai melukis, sedangkan dia ingin memberikan hadiah lukisan ke teman kelasnya yang berulang tahun.

Dengan bantuan Doraemon dan tikus tersebut, akhirnya dia berhasil menyentuh hati temannya. Yang lucu dari film ini adalah hubungan antara doraemon dan si tikus, dimana masing-masing saling takut satu sama lain. Hubungan kocak yang ada membuat film pendek ini menjadi semakin menyenangkan untuk dinikmati.

Seusai menonton kami lanjut berfoto-foto di bagian outdoor, ada Giant ganteng, pintu ke mana saja, pisuke, dorami, doraemon yang jadi batu, p-man, 3 pipa besar yang selalu ada di lapangan tempat Nobita dan kawan-kawan bermain, ada juga beberapa karakter yang tersembunyi di hutan. Jadi mata harus jeli ya!

IMG_20150406_120122IMG_20150406_125809IMG_20150406_125509

Hal lain yang membuat hati nyaman adalah pemandangan yang ada, dari sini kita bisa melihat rumah-rumah “kampung halaman” Fujiko-sensei. Persis seperti yang ada di komik Doraemon: kecil, minimalis, 1-2 tingkat, dan entah kenapa terkesan lucu nan manis. Setelah puas berfoto-foto, sebenarnya kami ingin mencoba masuk ke café-nya.

Tetapi karena sangat ramai dan dapat nomor antrian bisa kira-kira 1 jam lagi, maka niat tersebut kami urungkan. Jadinya kami belanja kue-kue saja di toko kecil samping cafe. Saya membeli ‘Dorayaki’ seharga 210 (dua ratus sepuluh) yen dan “Dorami Cookie” seharga 430 (empat ratus tiga puluh yen). Dorayaki-nya enak, dengan isi kacang merah. Sedangkan Dorami Cookie adalah cookie dengan icing Dorami. Rasanya biasa saja.

IMG_20150406_130501IMG_20150406_135848IMG_20150406_130823

Sehabis berbelanja, Nick mempunya ide untuk mencoba ke Hakone lagi mumpung cuaca cerah. Harapannya adalah bisa melihat Gunung Fuji dari kejauhan saja, jadi kita tidak perlu keluar stasiun karena jika masih di dalam stasiun belum keluar gate tidak dikenakan biaya kereta. Ketika akan keluar museum, kita melewati area oleh-oleh. Di sini ada kaos, CD lagu Giant, banyak deh!

Ketemu orang Indonesia juga. Pastinya di tempat ini pernak-pernik diborong sebagai oleh-oleh maupun kenang-kenangan. Kami membeli: Mug Cup seharga 1,080 (seribu delapan puluh) yen, Key Holder dengan harga masing-masing 864 (delapan ratus enam puluh empat) yen dan 626 (enam ratus dua puluh enam) yen, 2 buah memo dan headband yang harganya sama-sama 756 (tujuh ratus lima puluh enam) yen.

Keluar dari museum kami naik bis lagi menuju stasiun karena mengejar waktu dan kaki sudah mulai lelah juga. Harga bis sekali jalan adalah 300 (tiga ratus) yen. Sesampai di “Noborito Station” kita makan Yoshinoya dulu. Seusai makan kita melanjutkan perjalanan menuju Hakone. Perjalanan selama kurang lebih 2 jam kita manfaatkan untuk tidur siang.

Kira-kira sudah hampir mau sampai, saya sudah melihat-lihat ke luar jendela berharap Gunung Fuji menampakkan dirinya. Tetapi apa daya harapan telah pupus, kita sampai di stasiun pun Gunung Fuji tidak terlihat. Memang cuacanya agak berawan meski tidak berkabut parah seperti waktu itu. Dengan perasaan kecewa, akhirnya kami balik lagi ke Tokyo dan selama perjalanan tidur siang pun dilanjutkan dengan tidur sore.

Sekitar pukul 6 sore kami sampai lagi di kawasan Asakusa. Di sini kami berpisah, Agnes Hendro Lina Wandi berburu oleh-oleh di “Nakamise Street”, sedangkan Ferry Nick pergi ke stasiun untuk mencari info kereta pagi besok menuju Narita. Meskipun sudah berhari-hari kami melewati gang ini, tetapi baru kali inilah kami melihat toko-tokonya.

IMG_20150406_183042IMG_20150406_184509

Biasanya ketika kami melewati gang ini toko-toko di sini belum buka karena masih pagi, atau sudah tutup karena sudah malam. Pengunjungnya ramai, dikarenakan banyaknya juga aneka jenis yang dijual di sini. Mulai dari makanan kecil sampai souvenir ada semua, jika membeli makanan kecil untuk dimakan di tempat ada peringatan: “Local Rule: No eating while walking”

Seusai belanja oleh-oleh, sudah bertemu lagi dengan Ferry dan Nick, kami lanjut menuju “Tokyo Skytree”. Sampai di Tokyo Skytree kami tidak naik lagi karena sudah kemaleman, melainkan hanya mengunjungi toko-tokonya saja di kaki menara ini. Kami mencoba frozen yoghurt “Lemson’s” yang dihargai sesuai berat gram-nya, dan kami kena harga 597 (lima ratus sembilan puluh tujuh) yen, ditambah pajak 8% sebesar 47 (empat puluh tujuh) yen, jadi total yang dibayar adalah 644 (enam ratus empat puluh empat) yen.

IMG_20150406_190732IMG_20150406_193858IMG_20150406_193148IMG_20150406_191701

Ternyata di sini juga ada toko oleh-oleh Ghibli, jadi meskipun tidak bisa ke museumnya paling tidak kami masih bisa ke toko souvenir-nya. Bermacam-macam yang dijual di sini, ada kartu bergambar karakter-karakter yang berasal dari Ghibli Studio, boneka, dan sebagainya. Barang yang kami beli salah satunya adalah “Totoro Baby Spoon & Fork” seharga 1,000 (seribu) yen belum termasuk pajak 8%.

Sudah pukul 9 malam, perut sudah lapar, akhirnya kami berpamitan dengan Tokyo Skytree. Berhubung uang kas masih ada, kami mau menghambur-hamburkannya menghabiskannya dengan makan mahal bersama. Pilihan kami jatuh pada yakitori, sate ayam jepang. Memang dari awal kami di Jepang belum pernah mencicipi tempat makan yang terlihat penuh kehangatan ini.

IMG_20150406_201419IMG_20150406_204658IMG_20150406_204551IMG_20150406_204521IMG_20150406_203827IMG_20150406_203716IMG_20150406_203639IMG_20150406_203605IMG_20150406_202507

Jadilah kami mampir ke salah satu restoran yakitori yang ditemui di pinggir jalan, ketika masuk kita diharuskan membayar biaya open table seharga 250 (dua ratus lima puluh) yen per orang. Tamagoyaki, agedashi tofu, sate ayam, sate bakso, sate jamur, adalah beberapa menu yang kami pesan. Total ada 9 menu dengan harga beragam mulai dari 180 (seratus delapan puluh), 200 (dua ratus), 220 (dua ratus dua puluh), 250 (dua ratus lima puluh), sampai 450 (empat ratus lima puluh) yen.

Harga yang harus kami bayarkan adalah 4,482 (empat ribu empat ratus delapan puluh dua) yen sudah termasuk pajak 8%. Cukup mahal untuk makan berempat, terutama untuk harga open table-nya sih. Jadinya uang kas kami habis, malah harus nombok untuk kekurangannya. Karena berasa kurang karbohidrat, pulang kita makan lagi di tempat makan biasa dekat hostel. Murah meriah kenyang.

IMG_20150406_213600IMG_20150406_213728IMG_20150406_213633IMG_20150406_213620IMG_20150406_213611

Tak terasa besok kami sudah harus pulang kembali ke Jakarta. Liburan yang menyenangkan telah usai. Ada rasa tidak rela, ada rasa kangen. Kami mulai siap-siap packing karena besok rencana akan naik kereta pertama yang paling pagi kira-kira pukul 5 subuh. Sehabis packing saya mengembalikkan wifi sewaan, caranya wifi tersebut dimasukkan ke amplop yang memang sudah disediakan ketika kita mengambil wifi di kantor pos bandara.

Amplopnya sudah lengkap dengan alamat tujuan dan perekat, kemudian amplop tersebut tinggal dimasukkan ke kotak pos terdekat. Kotak pos terdekat hostel kami adalah kotak pos merah yang ada figura panda lucu di atasnya. Selesai memasukkan ke kotak pos, saya jalan kaki menuju hostel. Langkah kaki saya perlambat untuk menikmati jalan-jalan dan gang-gang yang mungkin tidak akan dikunjungi lagi.

Sampai akhirnya tiba di mini market dekat hostel, mengucapkan terima kasih dalam hati kepada mini market tersebut karena telah menyediakan kebutuhan sehari-hari kami seperti sarapan, buah, dan minuman. Sebelum semakin sedih saya langsung bergegas masuk hostel karena besok harus bangun pagi lagi dan tidak boleh telat. Sesampai di hostel langsung siap-siap tidur beristirahat, mandi, gosok gigi, pasang alarm, dan tidur dengan senyuman mensyukuri liburan yang boleh kami alami bersama ini.

IMG_20150406_220610.jpg

SELASA, 7 APRIL 2015

Sekitar jam 3-4 pagi kami sudah bangun, ada yang mandi, ada yang hanya mencuci muka dan gosok gigi karena memang udaranya sangat dingin menggigil sampai ke tulang. Kami menggerek-gerek koper ke stasiun subway terdekat, yang menurut saya sebenarnya lumayan jauh apalagi sambil membawa koper.

Belum lagi kopernya harus diangkut melewati tangga turun, lumayan untuk olahraga subuh mencari keringat. Akhirnya kami naik kereta menuju Narita. Karena perjalanan yang cukup lama, kami semua tertidur di dalam kereta. Begitu terjaga kereta sudah lumayan penuh dan koper-koper kami bergeser karena kereta yang bergerak-gerak.

Saya kesulitan sendiri harus menjaga koper-koper agar tidak mengganggu penumpang yang lain. Seharusnya perusahaan pembuat koper menciptakan semacam rem agar koper tetap diam tidak bergeser-geser. Ketika sampai di “Narita Station” saya membangunkan Nick dan yang lain untuk bertanya apakah ini stasiun tujuan kita, karena tidak yakin akhirnya kami turun dulu saja daripada nanti terlewat. Ternyata bukan. Jadi ada Narita Station, ada juga “Narita International Airport”.

Di sini ada kejadian lucu. Nick yang masih setengah sadar mau masuk ke ruang informasi untuk menanyakan kereta ke bandara. Ruangan tersebut pintu kacanya sudah terbuka, tetapi Nick bingung mencari bagaimana cara membuka pintunya. Sang petugas dan kita pun bingung melihat Nick yang bingung-bingung, akhirnya Nick dengan ragu-ragu melangkahkan kakinya ke dalam ruangan memastikan bahwa pintunya memang sudah terbuka. *ngakak*

Kereta datang, kita menuju bandara. Untungnya memang kita berangkat dari kereta paling pagi, jadi ketika ada kejadian nyasar seperti ini tidak sampai membuat ketinggalan pesawat. Proses check in berjalan dengan lumayan baik, dan selagi menunggu pesawat kami menghabiskan uang koin dan sisa saldo di ICOCA dengan memborong minuman di vending machine.

Tentu saja vending machine yang berada di ruang tunggu, jadi sudah melewati tempat pemeriksaan cairan 100ml. Belajar dari pengalaman ketika datang juga kami kehausan waktu transit di “Kuala Lumpur International Airport”, mereka hanya menerima Ringgit dan kita tidak mempunyai mata uang tersebut.

Untungnya ketika di pesawat “Air Asia” kami bisa membeli minuman dengan menggunakan Yen, meskipun harganya mahal tetapi tidak apa daripada tersiksa kehausan. Jadi kali ini kami sudah menimbun persediaan minuman! Dijamin tidak akan kehausan lagi! Ada juga bekal onigiri dan camilan-camilan lainnya untuk menemani perut kami selama di perjalanan tanpa menguras isi kantong.

Setelah menempuh perjalanan berjam-jam yang kami lalui dengan tidur pulas karena kurang tidur, akhirnya kami sampai di Kuala Lumpur International Airport untuk transit sebelum menuju ke Jakarta. Bertemu dengan Titi Kamal dan Christian Sugiono, ternyata mereka satu pesawat dengan kita. Tentu saja harus diajak foto bersama.

IMG_20150407_161936IMG_20150407_161947IMG_20150407_161954IMG_20150407_163509

Selagi menunggu saya memakan Dorayaki yang dibeli di Museum Doraemon. Dorayakinya lembut, manis dengan isi kacang merah. Mungkin karena sudah dingin, rasanya jadi biasa saja. Malah menurut saya lebih enak Dorayaki Addict! By Shokupan karena dorayakinya masih hangat baru dibuat ketika kita beli.

IMG_20150407_184406

Ternyata pesawat delay karena cuaca yang kurang baik. Di luar memang terlihat mendung dan hujan. Semoga ketika nanti kita berangkat cuacanya sudah lebih membaik. Amin. Saya percaya Tuhan pasti melindungi perjalanan kita, dan para awak juga pasti lebih memilih delay daripada memaksa berangkat dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan bersama.

Sambil menunggu lagi, dengan kondisi ruangan ber-AC yang dingin, rasanya masih tidak percaya liburan telah berakhir. Tetapi di atas semuanya itu, lebih tidak percaya lagi saya bisa menginjakkan kaki di Jepang. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba muncul di hati dan pikiran, rasanya bergejolak dari dalam perut. Perasaan yang entah apa dan mungkin tidak bisa diutarakan dengan kata-kata.

“What a strange thing! To be alive beneath cherry blossoms.” – Kobayashi Issa

Ah, ya mungkin perasaan aneh itu adalah rasa syukur. Bersyukur atas liburan yang saya sadar, saya tidak pantas menerimanya. Rasa syukur atas kehidupan, terlebih lagi bersyukur bisa mengalami hidup dan memandang langsung sakura yang hanya ada di Jepang. Sakura yang hanya mekar sebentar kemudian gugur, justru menjadi daya tarik sendiri dan berbagai pengunjung dari seluruh dunia berbondong-bondong untuk menikmati musim sakura yang hanya sebentar itu.

Seakan sakura mengajari kita, bahwa yang hanya sebentar itu justru nilainya mahal. Liburan yang hanya sebentar tetapi berkesan. Hidup kita memang tidak lama tetapi sangat berharga. Life must go on! Cherish all the moment! Daripada terus bersedih libur telah selesai, lebih baik memotivasi diri, berjanji pada diri sendiri untuk berusaha – dan jika Tuhan mengizinkan – pada kesempatan berikutnya tentu saja kami akan kembali ke lagi Jepang!

“Don’t cry because it’s over, smile because it happened.” – Dr. Seuss

IMG_20150407_171144IMG_20150407_171320

Advertisements

Feel free to comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s